Sabtu, 31 Maret 2012

Bukan Puisi Cinta II


Dalam lelapku yang masih setengah dari alam bawah sadarku, aku masih mengingatmu.

Ketika lelapku telah berakhir dengan dengan perut yang keroncongan, aku masih bisa mengingatmu.

Ada kerinduan yang begitu dalam yang bisa aku rasakan sekarang, dari kemarin, mungkin saja juga besok.

Bukan wajahmu yang terbayang saat ini, tapi sentuhanmu yang tiba-tiba dating ke dalam mimpi-mimpiku.

Bukan dirimu yang terbayang saat ini, tapi aroma tubuhmu yang semerbak di dalam mimpi-mimpiku.

Aku kangen.

Ini namanya kangen tingkat dewa.

Jogjakarta, 27 Januari 2011

Bukan Puisi Cinta I

Dalam lelapku yang masih dalam setengah pengaruh alam bawah sadarku, aku masih mengingatmu.

Ketika lelapku telah berakhir dengan perut yang keroncongan, aku masih bisa mengingatmu.

Ada kerinduan yang begitu dalam yang bisa aku rasakan sekarang, dari kemarin, mungkin saja juga besok. 

Bukan wajahmu yang terbayang saat ini, tapi sentuhanmu yang tiba-tiba dating ke dalam mimpi-mimpiku. 

Bukan dirimu yang terbayang saat ini, tapi aroma tubuhmu yang semerbak di alam mimpiku.

Mungkin saja memang benar saat ini aku merindukan kamu.

Mungkin saja ini adalah kerinduan tingkat dewa. Di atas nirwana langit ke tujuh.

Sangat berlebihan memang, tapi begitulah adanya.

I really wanna say these words to you, 


I know you in a moment I talk to you in a minute,  


And I remember you in a whole day.  


But now, I miss you in a whole time I have to breathe. 


And that was so hard to passed. 


I need to meet you now, 


I need to talk to you, and I wanna hug you so deep in a long long time we have. 


I miss you so. 

Djogjakarta, 27 Januari 2011

I Say These (part I)

Its not about how long you have been single and doing something by your self, but It’s about the choice you had made. Your life is your choice.

 **

 Kamu bisa menjatuhkan saya ‘sesaat’ dengan kata – kata tapi kamu telah memotivasi saya untuk ‘selamanya’.

 **

 Hanya karena saya memilih untuk berdiri sendiri bukan berarti saya merasa bangga dan tidak membutuhkan orang lain. Saya hanya ingin membuktikan kalau saya bisa tanpamu, tanpa dia bahkan tanpa mereka.

 **

 Single itu status. Jomblo itu nasib. Sendiri itu pilihan.

 **

 Saya diam bukan berarti tidak tahu. Saya diam bukan berarti saya sombong. Saya diam bukan berarti cuek. Dan saya diam bukan berarti marah. Tapi dalam diam saya memperhatikan sekitarku.

 **

 Aku hanya menetapkan standar tertinggi kepada laki – laki yang pantas, tapi aku tak mengidamkan laki – laki dengan standar tertinggi. Aku hanya menetapkan standar terendah kepada laki – laki yang yang pantas, tapi aku tak mengidamkan laki – laki dengan standar ini. Aku mengidamkan laki – laki yang bisa meningkatkan standar dirinya sendiri dimulai dari standar terendah.

 **

 Aku tak pernah menganggap bahwa diriku adalah teman terbaik yang pernah kamu miliki, tapi aku berani menganggap bahwa diriku adalah teman yang kurang baik karena pernah menegurmu di depan mukamu tanpa membicarakan aibmu di belakang.

 **

 Bagiku, di dunia ini ada tiga macam lelaki. Laki – laki homo, biseks, dan normal.

 **

 Bagiku, di dunia ini ada tiga macam perempuan. Perempuan lesbian, biseks dan abnormal. Perempuan menjadi abnormal ketika dia mulai menangisi laki – laki yang tidak pantas untuk ditangisi karena memiliki kualitas hati yang sangat rendah dan tidak didukung dengan kualitas jasmani.

 **

 Seperti kata ibuku, pada akhirnya orang akan menjalani hidupnya masing – masing. Ketika kalian kecil, saling menyayangi dan menjaga. Namun ketika kalian dewasa, maka kalian akan berjalan sendiri – sendiri mencari hidup yang sebenarnya.

 **

 Sebenarnya aku tak memiliki sesuatu yang berharga pun di dunia ini selain diriku dan cinta yang aku miliki. Tetapi manusia tak bisa melihat kedua hal itu dengan mata kepala, tapi dengan hati. Bagi mata manusia, yang berharga di dunia ini adalah uang.

 **

 Bila aku mengejar surga semata aku tak perlu lama – lama hidup di dunia ini, cabutlah nyawaku ketika aku telah melakukan kebaikan dengan nilai pahal paling tinggi.

 **

 Di dunia ini, manusia mencintai dirinya, orangtuanya, pasangan hidup, anak – anaknya, kemudian Tuhannya. Tunjukkan kepadaku satu manusia yang bisa mencintai Tuhannya, orangtuanya, pasangan hidup, diri sendiri, dan anak – anaknya.

 **

Jumat, 04 Maret 2011

My Confession Part I

Bila anak sungai telah mengalir, kau pun tak dapat membendungnya

Ketika secercah harapan telah pupus, kau pun tak dapat menghadirkannya

Bila sang burung tak lagi bersayap, kau pun tak dapat menerbangkannya

Tahukah kau apa yang aku siratkan kepadamu?

Tahukah kau makna dibalik aksara kasat mata?

Bila aku menangis aku yakin kau tak dapat menghentikannya sekalipun belati kau sodorkan di mukaku
yang basah digenangi air menganak sungai ini

Ketika asaku meraih mimpi yang kau janjikan telah habis ditelan waktu dipudarkan oleh penantian kau tak dapat menimbulkan kembali rasa yang dulu pernah kusimpan untuk dirimu sekarang

Dan bila diriku tak lagi mampu terbang di awan cinta langit fatamorgana yang kau ciptakan kau pun tak dapat membuat aku melayang jauh lagi bersama sayap-sayap utuh dirimu

Aku mati rasa

Tak lagi dapat merasakan hangatnya mentarimu

Tak lagi dapat merasakan hangatnya bisikanmu

Tak lagi dapat merasakan dinginnya ujung jemarimu

Aku kebal jiwa raga

Ruang kosong dihatiku semakin berjubel

Pesonamu kini hilang sedikit demi sedikit

Aroma tubuhmu tak lagi membekas di ujung-ujung hidung

Aku tak membencimu

Juga tidak lagi menyayangimu

Aku hanya temanmu sekarang

Dan bukan “seseorang” bagimu


(Malang, 03 April 2010 at 5:10 am)

The Poem V (Giring Malam Ke Firdaus)

Malam, mengapa tak kunjung nampak,

Maaf karena semalam.

Malam, akankah kau hadir selepas petang?

Lepas dendam semalam.

“dia tak bisa hadir!” hatiku membentak.

“mengapa malam tak bisa?”

“si jago merah kembali lagi!” ia tegas

Tibalah malam ke haribaanku,

Singgahlah sejenak wahai mahapekat,

Bersemayam para angin bersamamu.

Masanya tak tepat wahai mahajago,

Penghambat kehadiran malam.

Firdaus sunyi senyap,

Bercampur si jago dan tangis.

Dari lembah sunyi, ladang manusia.

Bawa malam padaku, “tak bisa, wahai peziarah malam” jawabnya berlalu.

(Soroako, Agustus 2008)

The Poem IV (Tuhan, aku pelacur!)

Selangkangan perih,

Sudah resiko pemula,

Ku malu aib,

Konsekuensi profesi,

Semalam angsur jutawan,

Kembang malam laku keras!

(Soroako, Agustus 2008)

The Poem III (Kain)

Embun pagi menyeruak di atas permukaan daun,

Sebening kasih yang Ia tumpah.

Wajahku tak sebenig kasih-Nya dan embun-Nya.

Kau masih tertidur pulas.

Di kasur empuk katanya mahal,

Baju tidur merk ternama,

Kau pamer tanpa sengaja,

Padaku serta orang-orang.

“biarlah ku berbalut kain lusuh”

Hatiku bergumam pada-Nya.

Suatu siang di tengah terik-Nya,

Daun pintu meronta-ronta,

“bukalah aku tuan rumah..ada tamu!”

Langkahmu terasa berat, kain sutramu.

Kau tanggalkan nylon, dan katun kau singkirkan.

“lekas bayar hutang-hutangmu!”

Juragan kain memaksamu.

“berilah waktu beberapa bulan lagi,

Ku tak punya lagi harta penebus kainmu”

“bila punya kain sutra lunasi borok dengan barang itu!”

Kau menipunya agar kain bersamamu.

Pembual selera tinggi.

(Soroako, Agustus 2008)