Jumat, 04 Maret 2011

My Confession Part I

Bila anak sungai telah mengalir, kau pun tak dapat membendungnya

Ketika secercah harapan telah pupus, kau pun tak dapat menghadirkannya

Bila sang burung tak lagi bersayap, kau pun tak dapat menerbangkannya

Tahukah kau apa yang aku siratkan kepadamu?

Tahukah kau makna dibalik aksara kasat mata?

Bila aku menangis aku yakin kau tak dapat menghentikannya sekalipun belati kau sodorkan di mukaku
yang basah digenangi air menganak sungai ini

Ketika asaku meraih mimpi yang kau janjikan telah habis ditelan waktu dipudarkan oleh penantian kau tak dapat menimbulkan kembali rasa yang dulu pernah kusimpan untuk dirimu sekarang

Dan bila diriku tak lagi mampu terbang di awan cinta langit fatamorgana yang kau ciptakan kau pun tak dapat membuat aku melayang jauh lagi bersama sayap-sayap utuh dirimu

Aku mati rasa

Tak lagi dapat merasakan hangatnya mentarimu

Tak lagi dapat merasakan hangatnya bisikanmu

Tak lagi dapat merasakan dinginnya ujung jemarimu

Aku kebal jiwa raga

Ruang kosong dihatiku semakin berjubel

Pesonamu kini hilang sedikit demi sedikit

Aroma tubuhmu tak lagi membekas di ujung-ujung hidung

Aku tak membencimu

Juga tidak lagi menyayangimu

Aku hanya temanmu sekarang

Dan bukan “seseorang” bagimu


(Malang, 03 April 2010 at 5:10 am)

The Poem V (Giring Malam Ke Firdaus)

Malam, mengapa tak kunjung nampak,

Maaf karena semalam.

Malam, akankah kau hadir selepas petang?

Lepas dendam semalam.

“dia tak bisa hadir!” hatiku membentak.

“mengapa malam tak bisa?”

“si jago merah kembali lagi!” ia tegas

Tibalah malam ke haribaanku,

Singgahlah sejenak wahai mahapekat,

Bersemayam para angin bersamamu.

Masanya tak tepat wahai mahajago,

Penghambat kehadiran malam.

Firdaus sunyi senyap,

Bercampur si jago dan tangis.

Dari lembah sunyi, ladang manusia.

Bawa malam padaku, “tak bisa, wahai peziarah malam” jawabnya berlalu.

(Soroako, Agustus 2008)

The Poem IV (Tuhan, aku pelacur!)

Selangkangan perih,

Sudah resiko pemula,

Ku malu aib,

Konsekuensi profesi,

Semalam angsur jutawan,

Kembang malam laku keras!

(Soroako, Agustus 2008)

The Poem III (Kain)

Embun pagi menyeruak di atas permukaan daun,

Sebening kasih yang Ia tumpah.

Wajahku tak sebenig kasih-Nya dan embun-Nya.

Kau masih tertidur pulas.

Di kasur empuk katanya mahal,

Baju tidur merk ternama,

Kau pamer tanpa sengaja,

Padaku serta orang-orang.

“biarlah ku berbalut kain lusuh”

Hatiku bergumam pada-Nya.

Suatu siang di tengah terik-Nya,

Daun pintu meronta-ronta,

“bukalah aku tuan rumah..ada tamu!”

Langkahmu terasa berat, kain sutramu.

Kau tanggalkan nylon, dan katun kau singkirkan.

“lekas bayar hutang-hutangmu!”

Juragan kain memaksamu.

“berilah waktu beberapa bulan lagi,

Ku tak punya lagi harta penebus kainmu”

“bila punya kain sutra lunasi borok dengan barang itu!”

Kau menipunya agar kain bersamamu.

Pembual selera tinggi.

(Soroako, Agustus 2008)

The Poem II (Stunggal)

Satu angka yg pertama bukanlah nol

Satu peringkat teratas menjadi rebutan yg menghasilkan persaingan

Satu ketunggalan dalam keluarga yg menciptakan kerinduan

Satu orang yg bermasyarakat pd hakikatnya adalah sendiri

Satu aku hirup udara dunia keluar lewat rahim ibu hanya sendiri

Satu saat ini aku hanya sendiri sekalipun teman-teman di sekitarku, orang tua, tetangga, tapi aku masih sendiri, satu-satunya di dunia dalam diriku.

Malang, 18 juli '09 @ 19:54

The Poem (Tebing)

Ketika aku mencoba tuk berdiri kembali,

di tengah krisis jiwa yg tlah lama mengakar,


ketika aku mencoba tuk merasa bebas tertawa kembali,

di tengah kecanggungan yg melanda wajah muda,

ketika aku merangkak,

memanjati tiap-tiap tebing kepercayaan terhadap diri sendiri yg hampir pudar,

aku dikalahkn oleh suara reruntuhan kerikil suara mereka,

kerikil itu datang sdikit demi sedikit,

walau kecil, tapi perih di kalbu dan relung hatiku remuk!

(malang, 5 sept '09)

My Quote II

Mungkin Tuhan ingin kita bertemu dengan orang yang tidak baik, sebelum kita bertemu dengan orang yang baik. Karena di saat kita bertemu dengan orang yang baik, kita akan ingat untuk mengucap syukur atas pemberian-Nya itu.

**

Kegagalan yang sering kita jumpai di dalam setiap usaha yang sedang kita usahakan sering kali membuat kita merasa tidak memiliki kesempatan kedua bahkan terpuruk di dalamnya. Tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah mengatakan kepada umat-Nya kalau kesempatan kedua itu tidak ada bagi mereka yang mau terus berikhtiar dan bertawakal. Karena sebenarnya kesempatan itu ada di mana-mana, yang tidak hanya adalah usaha dan kemauan untuk menghadapi kemungkinan "gagal" yang kedua kalinya.

**

Dendam hanya akan menyakiti hati dan memenuhi pikiranmu tanpa memberikan penawar di dalam hati kecilmu. Tapi melupakan sakit hati, luka di atas luka juga sulit untuk dilakukan. Apa yang bisa aku lakukan? ketika dendam itu masih melekat, akan kujadikan itu sebagai pelajaran yang aku dapatkan di dalam "kelas" yang diajarkan oleh TUhan. Bila dendam itu menyakitkan, ku anggap sebagai soal "ujian" yang tak bisa aku selesaikan sehingga aku berusaha untuk "remedial" gar bisa lulus ujian.

Selayang Sastra I

"cari tahu siapa tuhanmu!" kata seorang pria yang sedang duduk dihadapanku saat ini. Aku hanya tersenyum dan tak menanggapi kalimatnya dan berlalu pergi meninggalkannya seorang diri. Dalam hati aku bersungut-sungut, "dia bukan siapa-siapa lalu kenapa dia bisa menyuruhku mencari tahu siapa Tuhanku? mungkinkah dia sendiri telah menemukan Tuhannya?".


wrote on 12nd January 2011

Selayang Sastra II

Dan perempuan itu menyesal dan meminta maaf pada dirinya sendiri, "maafkan aku lelakiku. Aku tak bisa menjaga hatiku seperti yang aku usahakan selama hampir tiga tahun ini". Dalam tiap-tiap detak jantung dan desiran darahnya, perempuan itu masih mengingat sosok lelaki yang dulu pernah dicintainya. Tapi kenapa dia datang lagi ketika hatinya terbuka untuk lelaki lain?


Perempuan itu pernah mencintai orang yang salah, bahkan dia terlalu cinta padanya saat itu. Tiga tahun yang lalu masih tertunda untuk dia mengatakan semuanya, dan sampai hari ini pun dia masih menyimpan rasa itu. Dia harus mengatakan semuanya sebelum dia berpaling pada laki-laki yang lain. Mereka mungkin tak terikat oleh cincin atau benda-benda berharga lainnya, tapi secara batiniah permpuan itu masih mempunyai ikatan dengan dia. Bagaimana dengan lelaki itu? apakah dia juga masih merasa terikat dengan perempuan itu? dia juga tidak tahu.

wrote on 13 January 2011